Tidak ada yang mudah, tetapi tidak ada yang tidak mungkin..


Jadilah Pejuang

Tidak ada yang mudah, tetapi tidak ada yang tidak mungkin.

Rendah Hatilah

Ulat yang menjijikkan itu tidak pernah menceritakan pada dunia bahwa dia akan menjadi kupu-kupu yang begitu indah.

Jadilah Teladan

Jadilah teladan dalam perkataan dan perbuatan bagi semua orang.

Tetaplah Berdoa

Doa orang benar sangat besar kuasanya. Doa adalah nafas hidup orang percaya.

Hiduplah di dalam Kasih

Kasih menjadikan hidup lebih berarti.

Jumat, 26 November 2021

ULANGAN HARIAN PAK

 

ULANGAN HARIAN PAK SMA SWASTA TUNAS BANGSA

1. Ulangan Harian Kelas X klik disini
2. Ulangan Harian Kelas XI klik disini
3. Ulangan Harian Kelas XII klik disini

Kamis, 03 Desember 2020

GURU SEBAGAI PELAYAN KEMERDEKAAN BELAJAR

GURU SEBAGAI PELAYAN KEMERDEKAAN BELAJAR

Samuel Gunawan, S.Th

SMA Swasta Tunas Bangsa

samuelsigalingging43@gmail.com

 

Guru adalah pelayan. Pelayan yang melayani kebutuhan peserta didik, sekolah dan masyarakat luas. Menjadi guru bukanlah sekadar menjadi pengajar, pendidik, dan pemberi nilai. Namun lebih dari itu, guru adalah sosok pelayan yang mengabdikan totalitas diri bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat. Terdengar berat, namun demikianlah adanya. Mulai dari memperhatikan pakaian seragam, kuku, sepatu, buku, tulisan, rambut, bahkan aksesoris peserta didik. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan karakter yang baik, berinovasi demi kemajuan pendidikan, berkolaborasi dengan seluruh rekan guru di sekolah, taat kepada aturan dan peraturan sekolah, melaksanakan tugas pokok dan fungsi guru, serta menjaga hubungan yang baik terhadap masyarakat luas sebab guru adalah tokoh dalam masyarakat.

Pandemi covid 19 seakan menjadi peredam bagi panggilan jiwa seorang pelayan. Tertahan semangatnya dan pergerakannya. Ekspresi dirinya seakan dihalang-halangi. Inovasinya pun seakan tehenti. Rintangan muncul menghadang perjalanan seorang pelayan. Jembatan penghubung seakan-akan terputus. Sesaat seperti mematahkan harapan pelayanan seorang pelayan. Namun, apapun yang terjadi, seorang pelayan yang sejati akan senantiasa bersiap sedia melayani tuannya, demikianlah seorang guru dalam melayani. Dalam situasi dan konteks apapun guru akan bersiap sedia melayani, bahkan dalam situasi buruk sekalipun.

Indonesia sejak awal tahun 2020 telah diterjang musibah yang melanda seluruh lapisan masyarakat. Dunia kesehatan, usaha/ekonomi, dan pendidikan paling banyak mengalami dampak negatif pandemi covid 19. Kaya-miskin, tua-muda, guru-peserta didik, semua terkena dampaknya. Oleh sebab itu, mau tidak mau, suka tidak suka, pendidikan harus tetap dilayankan demi menjaga peradaban negeri ini. Guru sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan, memiliki tanggungjawab dalam melayani meskipun pandemi melanda, tetap berjuang membentuk masa depan bangsa melalui proses pembelajaran yang saat ini mengalami pembaharuan, namun eksistensinya tetap mengacu pada undang-undang.

Situasi sulit akan memotivasi suatu bangsa untuk semakin berjuang, setapak demi setapak melangkah maju menggapai cita-cita, maka menjadi penting bagi pelayan kemerdekaan belajar untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan di dalam kelas, tanpa menambah beban bagi peserta didik dan orangtua. UU Sisdiknas tahun 2003, Pasal 3: menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Demikianlah seorang guru melayani generasi penerus bangsa.

Merdeka belajar bila ditinjau berdasarkan terminologi arti katanya, maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “Merdeka” memiliki tiga pengertian: (1) bebas (dari perhambatan, penjajahan dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak oleh tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Kata “Belajar” memiliki tiga pengertian (1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; (2) berlatih; (3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Berdasarkan kajian teori tersebut di atas maka konsep Merdeka Belajar dapat diartikan sebagai kebebasan mengekspresikan totalitas sebagai upaya untuk meperoleh ilmu pengetahuan. Belajar yang merdeka berarti bebas berekspresi dalam belajar demi memperoleh ilmu pengetahuan. Bebas dari tekanan pandemi, bebas dari tekanan psikologis.

Bagi seorang pelayan kemerdekaan belajar, guru memiliki kebebasan untuk memaksimalkan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, namun tetap berada dalam koridor kurikulum nasional. Bagi peserta didik, bebas untuk berekspresi selama menempuh proses pembelajaran di sekolah, namun tetap mengikuti kaidah aturan di sekolah. Peserta didik dapat lebih mandiri, lebih banyak belajar untuk mendapatkan suatu kepandaian, dan hasil dari proses pembelajaran sehingga dapat berubah secara pengetahuan, pemahaman, sikap/karakter, tingkah laku, keterampilan, dan daya reaksinya, sejalan dengan apa yang diamanatkan dalam tujuan UU Sisdiknas Tahun 2003, yakni; untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Menjadi Guru bukan sekadar mengajar dan mendidik. Menjadi guru berarti mendedikasikan diri untuk selalu aktif belajar dan menggali informasi agar mampu memberikan pencerahan dan pengalaman nyata bagi para peserta didik. Mengajar mungkin mudah tapi mendidik dan mendedikasikan diri sangat sulit. Butuh kesabaran ekstra, karena tidak semua yang kita anggap baik belum tentu baik menurut para peserta didik, menurut guru penting belum tentu penting bagi para peserta didik. Juga yang tidak kalah penting bagaimana menjadi model yang baik bagi para peserta, karena pasti mereka melihat dan merekam apakah sama antara yang diucapkan oleh guru dengan apa yang dilakukan. Selain itu para guru harus mempersiapkan para peserta didik untuk menghadapi zaman yang jelas berbeda yang akan mereka hadapi di masa depan.

Menjadi model bagi peserta didik merupakan salah satu kompetensi yang semestinya dimiliki oleh seorang guru sebagai pelayan. Kompetensi  tersebut adalah kompetensi kepribadian. Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki, yang membedakan antara guru yang satu dengan guru lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah satu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan. Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Karena itu, guru dianggap sebagai model. Sebagai seorang model, guru harus mempunyai kepribadian yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian.

Selain itu, guru juga semestinya memiliki kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga menjadi idola para peserta didiknya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi peserta didiknya dalam belajar. Bila dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada peserta didiknya, karena mereka akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik.

Ketangguhan dan motivasi yang kuat semestinya tertanam dalam jiwa seorang guru sebagai pelayan kemerdekaan belajar. Tangguh dalam memperjuangkan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didik. Memiliki motivasi yang kuat untuk mendampingi dan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada semua peserta didik. Bukan hanya bagi peserta didik yang memiliki fasilitas dan akses, namun juga bagi peserta didik yang sama sekali tidak memiliki fasilitas dan akses. Prinsipnya merdeka belajar menjangkau semua peserta didik. Dalam hal ini sangat diperlukan ketangguhan dan motivasi, tanpa memikirkan suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Pelayan akan tetap melayani sebab dia adalah seorang pelayan.

Ketangguhan dan motivasi yang kuat akan tercermin dalam tindakan pantang menyerah seorang guru. Orang bijak mengatakan: “Kerjakan semua hal baik yang anda bisa, dengan semua sarana yang anda bisa, dengan semua cara yang anda bisa, kepada semua orang yang anda bisa, dan sepanjang yang anda bisa.” Dan “Tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin.”

Seberapa sanggup seorang guru akan terus melayani? Ini menjadi pertanyaan yang teramat sulit untuk dijawab selama guru tidak memiliki kerendahan hati dan kesetiaan. Dua kata kunci yang menjadi syarat utama bagi keberhasilan pelayanan seorang pelayan kemerdekaan belajar. Kerendahan hati ibarat embun penyejuk bagi jiwa yang haus, kesetiaan ibarat mentari pagi yang senantiasa menyinari bumi. Guru sebagai pelayan kemerdekaan belajar akan dikuatkan bila memiliki dua sisi positif tersebut dalam melaksanakan profesinya. Teruslah berjuang dalam kerendahan hati dan kesetiaan para guru Indonesia!

 

“Guru sebagai pelayan kemerdekaan belajar

senantiasa belajar untuk memerdekakan orang-orang

yang terpenjara dalam ketidaktahuan”

Rabu, 11 November 2020

Hiduplah di dalam Kasih

Kasih menjadikan hidup lebih bermakana. Tanpa kasih, seseorang tidak akan mengalami arti hidup yang sesungguhnya.  

Berdoalah Senantiasa

Doa adalah sarana berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Apapun kesusahan dan kebahagiaan yang kita alami, kita komunikasikan kepada-Nya dalam doa.


Jangan menangis, hadapilah! Berdoalah dengan teguh.

(Sebuah Refleksi)

 

Sepuluh bulan telah berlalu, namun pandemi masih menghantui.

 Kepada para peserta didik dan orangtua yang sangat saya kasihi.

 Nak, rajinlah belajar, jadikan doa nafas hidupmu, bantu orangtuamu, bimbing adik-adikmu, sayangi keluargamu. Itu pesan saya kepadamu dalam situasi saat ini.

 

Telah lama kita tidak bertemu, tidak bertatap muka, tidak berjabat tangan, tidak beribadah bersama, tidak berjumpa di kantin - tempat dimana kita dapat tertawa bersama. Kini kantin tidak ada penghuninya. Ruang kelas Agama Kristen kosong, hanya ada kursi, meja, papan tulis yang selalu putih tanpa goresan spidol. Bunga di taman kelas tidak berganti, tidak ada kalian yang membawa bunga untuk taman kelas kita. Hanya saya yang selalu menyiraminya. Jendela kelas pun terkadang penuh debu. Kangen rasanya melihat kalian yang penuh dengan canda dan tawa.

 

Masih ingatkah kalian ketika teman kalian terlambat masuk kelas karena kebanyakan jajan di kantin? Ah.. lucu rasanya. Atau teman kalian yang selalu rajin bertanya namun kata-katanya tidak beraturan? Jujur, saya rindu dengan kebersamaan itu. Apakah kalian juga demikian? Samakah yang kita rasakan?

 

Nak, saya sangat sedih mendengar teman kamu yang telah memilih untuk putus sekolah dan memilih untuk menikah. Saya kaget luar biasa. Mengapa? Ada apa? Apa karena saya kurang menanamkan nilai Kristiani bagi kalian? Atau karena godaan yang kalian hadapi di sana sangat besar sehingga kalian tidak bisa lagi berpikir dengan jernih? Atau orangtua kalian yang tidak peduli dengan kalian? Saya hanya bisa menerka, menebak, mempertanyakannya dalam benak saya. Pesan saya, jagalah iman kalian baik-baik ya..

 

Nak, jangan menangis, hadapilah. Bila engkau sedang merasa sulit, banyak masalah, jangan engkau tunjukkan, cerialah, yakinlah Tuhan tidak tidur dan senantiasa bersama kita. Apapun masalah kalian, apapun beban kalian, yakinlah Tuhan akan beri pertolongan.

 

Nak, saat ini kita belajar jarak jauh. Kita memang bertemu, bertemu dalam tulisan. Saya mengirim materi dan tugas PAK kepada kalian, dan kalian membalas dengan lembar jawaban. Meskipun jauh, kita tetap bertemu, memang tidak puas rasanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, inilah kenyataan. Bukan hanya kita seperti ini, hampir seluruh siswa di Indonesia bahkan dunia mengalami ini. Jadi, buat apa sedih, cerialah.. Sekarang tinggal bagaimana caranya supaya kalian bisa belajar dan tetap menjaga iman kalian. Belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja.

 

Saya senang dan bangga melihat teman kalian bersama adiknya membawa bukunya sambil “ngangon” (menggembalakan) kambingnya. Dia tidak malu. Dia bantu orangtuanya, namun tugasnya dari sekolah tetap dikerjakannya. Sekarang tinggal bagaimana kalian membangkitkan motivasi diri kalian. Jangan boros pakai kuota, hargai keringat orangtua kalian, sisakan uang kalian untuk beli kuota sendiri, belajarlah berhemat, beraktivitaslah secara sehat, bermedia sosial boleh-boleh saja, tapi belajar lebih utama. Yakinlah nak, proses tidak akan pernah menghianati hasil. Saat ini kamu sungguh-sungguh dalam berproses, maka yakinlah kelak kamu akan berhasil.

 

Untuk Bapak dan Ibu orangtua siswa,

Terimakasih pak, terimakasih bu, sudah bekerjasama mendidik anak kita. Saya yakin, harapan bapak dan ibu terhadap anak kita pasti lebih besar dari harapan saya. Dukunglah mereka, beri mereka ruang dan waktu untuk berproses, pantaulah mereka, awasi mereka. Saya jauh di sini senantiasa berharap bahwa bapak dan ibu tetap memberi motivasi kepada anak kita di sana.

 

Bapak dan Ibu, jangan pernah lelah untuk mengingatkan mereka beribadah, berdoa dan latihlah mereka untuk tetap disiplin dan bertanggung jawab dalam belajar. Saya yakin bahwa iman mereka semakin bertumbuh bersama keluarga di sana meskipun pandemi melanda kita. Saya di sini hanya bisa berdoa kiranya Tuhan kita Yesus Kristus memberi kesehatan dan rejeki bagi keluarga bapak dan ibu di sana, dan anak-anak kita diberi hikmat dan kepintaran dari Tuhan.

 

Bapak, Ibu dan peserta didik, marilah kita bersama-sama mendoakan agar pandemi ini segera berakhir. Tuhan Yesus berfirman dalam Matius 11:28-29 : “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

 

Teriring salam dan doa dari saya, Samuel Gunawan (Guru PAK SMA Swasta Tunas Bangsa)

Selasa, 10 November 2020

Jadilah Pejuang

 


Hidup memang tidak semudah yang kita bayangkan, terkadang ada kerikil kecil yang mengganggu atau bahkan batu besar yang menghadang. Apapun itu, jadilah pejuang yang pantang menyerah. 

Rabu, 04 November 2020

Kegiatan Keagamaan Kristen SMA Swasta Tunas Bangsa

Kegiatan keagamaan Kristen SMA Swasta Tunas Bangsa merupakan kegiatan keagamaan dalam membina karakter dan keimanan peserta didik Kristen.

RPP PAK Kelas XII Semester Ganjil (Multikulturalisme)

 Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang dianut mereka.

Berikut ini contoh RPP PAK Kelas XII (Multikulturalisme)